Cerita Hangat di Musim Dingin

Seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun tersesat di hutan Banf saat menjalani camping musim dingin bersama teman sekelasnya. Itulah kabar terakhir yang diperoleh dari pos penjaga yang ada di hutan Banf. Banf adalah taman nasional tertua di kanada dan merupakan taman nasional yang paling banyak dikunjungi di dunia. Memang di taman ini mempunyai hutan pinus yang sering kali digunakan sebagai tempat untuk camping khusus anak sekolah dasar—meskipun sekarang sedang dalam musim dingin. Hutan ini biasanya di buka 24 jam kecuali saat musim dingin yang hanya dibuka 12jam. Mulai pukul 8 pagi sampai 8 malam waktu Kanada.

Bocah ini memang sering sekali membuat ulah kapanpun dan dimanapun dia berada. Ketika camping liburan musim panas kemarin bocah ini sudah membuat hampir semua teman sekelas perempuannya menangis ketakutan karena ulahnya—melempar ular mainan kearah segerombolan anak perempuan yang sedang beristirahat setelah mencari kayu bakar. Sudah lebih dari sepuluh kali guru dan kepala sekolahnya memanggil orang tuanya untuk membicarakan masalah keusilan William Jack—“bocah setan”. Itulah nama kerennya di sekolah dasar “M” di Kanada. Hampir semua siswa mengenalnya—meskipun beda tingkat. Keren bukan?.

Pada libur awal musim sekolah ini selalu mengadakan acara camping massal. Dengan tujuan untuk mengenalkan sejak dini tentang bagaimana harus bertahan hidup dan pengenalan tentang alam sekitar. Dan setiap musim dingin hanya ada dua materi utama, yaitu praktik memasang tenda musim dingin, dan membuat api di musim dingin. Dua materi ini sangat membosankan bagi William karena dia selalu merasa kalau materi itu hanya membuang waktu bermainnya, bukankah dua materi itu harusnya orang dewasa yang melakukannya. Kenapa dia harus repot-repot melakukannya kalau masih ada orang dewasa disekitarnya, begitu pikirnya. Pemikiran yang sangat cerdas untuk anak seusia William.

Setelah pembagian kelompok, bocah ini diam-diam berjalan menjauh membawa tas punggung hitam. Isi tas bocah ini sungguh menakjubkan, tidak ada makanan ringan yang selalu disukai anak-anak sesusianya. Didalamnya hanya terdapat satu psp putih, satu botol susu hangat, dan sebuah kotak makan berisi sandwich lengkap dengan sayurnya. Mana ada bocah seusianya mau memakan sayuran lengkap sepertinya. Sesekali dia menoleh ke belakang memastikan tidak ada yang mengikutinya.

“aaah- akhirnya aku bisa menikmati liburan musim dinginku dengan tenang tanpa ada yang menyuruh dan yang pasti tanpa omelan dari guru-guru itu.” Ucapnya sambil meletakkan tasnya sebelum dia merebahkan punggungnya di pohon pinus yang letaknya lumayan jauh dari kerumunan orang-orang terkutuk tadi.

Bocah ini langsung mengeluarkan psp putihnya, melanjutkan permainan tadi pagi yang sempat tertunda akibat omelan ibunya. Setelah menang beberapa level ternyata suara perutnya sedikit mengganggu permainannya, sempat hampir kalah di level akhir. Dengan gerakan cepat William mengeluarkan kotak makannya. “woaah- ibuku memang hebat pasti dia tidak ingin melihat anak laki-lakinya yang tampan ini mati kelaparan karena kedinginan, dia memberiku empat potong sandwich” ocehnya sambil terkekeh pelan sebelum memasukkan potongan pertama ke dalam mulut mungilnya.

“oh- sudah jam 1 siang berarti hampir tiga jam aku menghabiskan waktu disini. Pasti sekarang semuanya sedang mencariku. Lebih baik aku segera kembali sebelum ayah dan ibuku mendapat laporan kalau anak paling tampannya hilang”. Ketika dia memasukkan kotak makan dan pspnya dia melihat ada kabut putih tebal di belakangnya. Dengan sedikit ragu dia melangkah ke arah sumber kabut putih itu. Sepertinya sudah jauh dia melangkah ke arah sumber kabut putih itu, tapi sialnya dia tidak menemukan apapun. Sialnya lagi dia tidak tahu arah, kompas yang ada di jam tangannya tidak berfungsi dengan benar. Setiap dia mengahadap ke kanan arah utaranya tetap, menghadap ke kiri juga tetap.

“oh god! Bagaimana ini. Aku tersesat! Aku tidak boleh menangis, aku ini anak laki-laki. Aku harus cari cara” mata bulatnya sudah sedikit berkabut dan pipinya juga terasa panas—sepertinya dia sudah hampir menangis. Sambil memikirkan apa yang harus dilakukan saat ini sesekali saling menggosokkan kedua telapak tangannya—dingin. Dia membuat bola-bola salju untuk dilemparkan kesegala arah berharap kabut putih itu sedikit menghilang. Tepat. Ada satu lemparan bola saljunya yang mampu menghilangkan sedikit kabut putih dan terlihat ada sesuatu di balik kabut itu.

Dengan perlahan dan hati-hati William melangkahkan kaki—sedikit takut memang. Dia terlihat kaget setelah mengetahui apa yang ada di balik kabut. Apa yang dia lihat itu membuatnya sedikit melangkahkan kaki mundur. Ternyata ada bongkahan es besar yang di dalamnya terdapat bangkai kapal bajak laut yang masih lengkap dengan awak kapalnya.

Bongkahan es itu perlahan mencair, kabut putih yang menyelubunginya juga sedikit demi sedikit berkurang. Dan dia menyadari kalau yang diinjaknya kali ini bukan lagi salju tapi air laut yang sudah membeku. William sudah melompat-lompat diatasnya untuk memastikan kalau air laut itu tidak akan tiba-tiba retak. Dengan mengingat dari penjelasan gurunya, kalau air yang membeku menjadi es kira-kira setebal lebih dari 25 sentimeter maka es itu tidak akan retak meskipun ada lebih dari tiga puluh orang dewasa yang melompat secara bersamaan.

Setelah memastikan posisinya sekarang itu aman. William perlahan mendekati bongkahan es yang juga secara perlahan meleleh. William menyentuhkan tangan mungilnya pada bongkahan es itu. “woah- ternyata bajak laut itu tidak hanya dalam cerita dongeng. Aku melihatnya sekarang. Pasti teman-temanku tidak akan percaya dengan apa yang kulihat. Wah!! Itu!! Itu!! Itu kapten bajak lautnya!!” teriaknya senang.

Dalam beberapa kali sentuh bongkahan es itu langsung meleleh lebih cepat dari sentuhan pertamanya tadi. William sedikit melakukan gerakan mundur dengan cepat tapi tetap hati-hati. Menikmati proses melelehnya bongkahan es dengan sabar. Ada beberapa awak kapal yang sudah tidak diselimuti es langsung berjatuhan dalam berbagai posisi. William semakin tidak bisa mengedipkan matanya saat tiba-tiba kapten bajak laut mengulurkan tangannya—meminta William untuk naik ke atas kapalnya. “kau…kau… kau masih hidup?” tanyanya dengan suara bergetar dan hanya dibalas dengan anggukan ringan dari sang kapten.

Dengan sedikit ragu-ragu William menyambut ulurannya dengan tangan kanannya. Mungkin karena terlalu lama sang kapten berada di dalam es membuat kekuatan otot dan tulangnya sedikit melemah. Saat sang kapten berusaha menarik William ke atas kapalnya tiba-tiba saja tubuh sang kapten terdorong ke belakang dan pantat Willian tak terselamatkan dari dinginnya es. “aww—sakitt!!” William langsung berdiri dengan menggosok-gosok pantatnya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya masih memegang sesuatu.

“WAAAAA!!!” teriak William histeris saat melihat tangan kanan sang kapten ada ditangannya. Dengan gerakan cepat William langsung melempar tangan kanan sang kapten ke arah kapten bajak laut yang terkekeh ngeri, seperti kekehan musuh bebuyutan ultraman saat sudah berhasil dikalahan. Kapten bajak laut itu langsung memasang lagi tangan kanannya dan kembali menatap William. Mengerikan—membuat William tanpa pikir panjang langsung berbalik berlari sekencang-kencangnya.

Ritme nafasnya sama sekali tidak teratur. Detak jantungnya juga tidak wajar. Baru kali ini William merasakan takut yang sangat luar biasa. Diliriknya jam tangan yang ada di tangan kirinya karena merasa sudah tidak ada cahaya matahari lagi seperti tadi. “astaga—ini sudah jam 8 malam. Ibuuuuuuu—anakmu tersesaaattt!!” teriak William. “aku harus bagaimana? Aku sendirian di dalam hutan terkutuk ini. bagaimana jika bajak laut tadi mengikutiku?ibuuuuu—selamatkan anakmu” oceh William dengan suara lemah dan sedikit serak karena menahan tangis. Sesekali William menoleh ke belakang berharap kapten bajak laut itu tidak menyusulnya.

William melihat sekelilingnya. Tidak ada apapun untuk dijadikan pelindung ataupun senjata untuk melindunginya. “ibuu—aku laparr.hiks” William baru teringat dengan bekal yang disiapkan oleh ibunya, masih ada sebotol susu. Dikeluarkannya botol susu itu. Dengan gerakan cepat satu botol susu itu habis dalam beberapa teguk.

“ibu—anakmu yang tampan ini sedang mengalami masa-masa sulit. Cepatlah temukan aku ibuu–” rengeknya lagi, kali ini kilauan bening dari sudut mata sebelah kiri sudah meluncur dengan bebas. Diusapnya dengan punggung tangan kirinya. Mendongakkan kepala berharap tidak ada kilauan bening lagi yang menetes dari matanya. “setidaknya aku masih memiliki kalian—bintang dan bulan sebagai temanku malam ini kalau saja aku tidak ditemukan.”

Sudah merasa putus asa dengan keadaannya. William kembali berjalan ke arah pohon pinus yang besar dengan penerangan seadanya—sinar bulan yang kebetulan sedang terjadi bulan purnama. Merasa capek dia merebahkan punggungnya di batang pohon pinus itu sambil menghadap ke bawah—bermain salju agar sedikit mengurangi rasa rindu kepada ayah, ibu, rumah, terutama kamarnya yang hangat. Menyesali perbuatannya tadi siang. Entah sudah berapa lama William menggali salju yang ada di sampingnya. Tiba-tiba tangannya membentur sesuatu. Ternyata bekal makan tadi siang yang belum sempat masuk ke dalam tasnya dan sudah tertimbun salju dari pohon pinus yang ada di atasnya.

Kotak makan itu menyelamatkannya. William langsung berbalik dan berlari lurus sampai menemukan penerangan dari api unggun. Itu ibunya, ibunya sedang menangis di depan api unggun. Sedangkan ayahnya sedang mencaci maki tim penyelamat karena tidak menemukan William padahal ini sudah jam 10 malam.

“IBBUUUUU—AYAAAAAAAHHHH—AKUU DISINIIIII” teriak William tertahan sambil berlari kearah kedua orang tuanya yang sudah terlebih dulu sampai ke arahnya dan memeluknya erat.

“ibu maafkan Willi, Willi janji nggak akan bikin ibu nangis lagi kayak gini. Apalagi cuma gara-gara Willi. Willi nggak suka lihat ibu nangis.” Sambil menghapus kilauan bening yang tidak berhenti dari sudut mata ibunya dengan jempol tangannya. Ibunya hanya menggeleng cepat dan langsung memeluk anak semata wayangnya itu.

“ayah—ayah jangan bentak-bentak tim penyelamat lagi kalau Willi belum ditemukan. Ini salah Willi, bukan mereka. Mereka sudah melakukan yang terbaik yang mereka bisa. Ayah cukup nunggu aja kabar dari mereka. Pasti cepat atau lambat Willi akan ketemu. Kalau mereka nggak bisa nemuin Willi, Willi yang akan lari ke arah Ayah seperti ini” ucapan William membuat ayahnya langsung menghujaninya dengan kecupan di sepanjang dahi dan pipinya.

“ayah—hentikan!! Aku ini anak laki-laki. Jangan kau ciumi seperti ini. Nanti pasaranku turun dan bisa-bisa taraf ketampananku luntur. Hanya ibu yang boleh menciumku seperti ini.” ucapan William tadi membuat kedua orang tuanya merasa gemas dan langsung mencium kedua pipinya dengan gemas.

FIN

Benar seperti apa yang ada di dongeng-dongeng itu, disetiap musim dingin pasti selalu ada cerita hangat di dalamnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s