Maafkan Anak Gadismu Ini Ya, Buk

Satu sifat saya yang baru kerasa sekarang adalah saya itu panikan. Iya panikan. Panikan yang bikin orang lain juga ikut-ikutan panik.

Ya~ tadi, enggak sih, nggak cuma tadi aja. Parahnya emang tadi sih. Tadi, pas mau berangkat ke malang lewat jalan yang sama sekali asing bagiku meskipun aku pernah lewat daerah itu tapi ini baru kali kedua, dan mengerikan*lebay.

Baru aja aku nyampek di terminal *** aku ditawarin tuh sama mas-mas tukang nyari penumpang yang ngomongnya itu lebih cepetan mulutnya yang nyeplos daripada otaknya yang kerja.

“Mbak, ke malang?”

“Iya, mas.”

“Itu, bisnya kosong”

“Enggak mas, nanti aja.”

“Apa?”

“Masih nunggu temen mas.” Sambil mainin telepon genggam dan sendal. Eh- tiba-tiba ada yang nyeletuk kasar. Namanya juga anak gadis yang nggak bisa denger sesuatu yang kasar. Jangankan yang kasar, cuma kata “ah” aja aku udah,hmmmm nyess gitu di dada—ngilu, kek dibentak. Padahal enggak.

Oke, hampir sejam kupingku yang stereo ini harus rela terinfeksi sejenak untuk mendengarkan sindiran dari kaum dan bangsanya mas-mas tadi. Risih sih. Mana akunya kepedean kalau lagi disindir. Kan bisa jadi bukan aku yaa. Ih- dasar perasa*abaikan.

Sudah habis rasa sabarku. Akhirnya aku neror temen-temen yang dalam sekejap sudah terdaftar dideretan paling atas untuk kuteror. Habislah mereka. Iya, mereka kubikin khawatir sama pesan singkatku. Jahat memang akunya. Tapi mau gimana lagi, berasa nggak nemu cara lain untuk menghentikan kupingku yang stereo ini selain merecoki mereka.

Akhirnya, dateng juga tuh bis yang bikin indera pendengaran harus rela dicekokin kalimat kasar versi manusia sedunia selama sejam.  Naik ke bis sambil telepon ibuk, yang jawab si tata—adekku yang cewek. Dia bingung denger suaraku yang agak aneh—ngalem-ngalem jijik mungkin.hahhaha

“Ja, ibuk ndi?” ya seperti itulah aku kalau manggil si tata. Pakai nama tengahnya Teja.

Nyapo?

Aku wediiiii. Ibuk ndi ja?” sambungku dengan rengekan manja khas rima buana, lebih cenderung mau nangis sih sebenernya. Ah~ menggelikan. Masa iya aku dengan bukan tipe-tipe cewek yang liat bulan di malam hari langsung nangis, dan selalu cuek dalam keadaan apapun tiba-tiba menjadi sosok yang sentimentilnya nggak ketulungan.

Ibukku yang mungkin baru aja rebahan di kasur empuknya karena mungkin juga baru menginjakkan kaki di rumah, harus rela memotong bukan memotong sih, merelakan waktu tidurnya untuk mendengarkan rengekan dari anak gadisnya. Mana rengekannya nggak jelas. Istilah kerennya nggremeng.

Maafkan anak gadismu ya Buk itu yang kupikirkan sepanjang perjalanan. Ya memang aku bukan tipe gadis yang akan langsung mengekspresikan apa yang aku rasa lewat rangkaian kata. maafkan anak gadismu ini ya, Buk.

FIN

ah~ pasti ntar kalau keposting bakalan rusak tatanannya. ya sudah, biar, nggak kuedit ulang. capekk!!

#tarikselimutsampaibatasleher

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s