Sepuluh Hari Tanpa Mereka

Pasti setiap anak remaja zaman sekarang pernah merasakan yang namanya patah hati, putus cinta, sakit hati, dan kaum-kaumnya itu. Dan yang kualami ini lebih parah dari yang namanya patah hati, putus cinta, sakit hati, dan kaum-kaumnya itu menurut versi anak remaja zaman sekarang sedunia.

            Menunggu sepuluh hari itu bukan pekerjaan mudah. Meskipun komunikasi sangatlah lancar, tetapi tidak bisa serta merta menenangkan orang yang menunggu di rumah. Tidak selega melihat langsung bagaimana keadaannya, apakah mereka sehat, apakah mereka bisa beradaptasi dengan baik, apakah mereka tidak tersesat, dan berribu apakah yang tidak bisa terungkap disini.

***

First night without them: Semua berkat kecupan ringan di pipiku

           Hari pertama tanpa mereka. Ah bukan hari pertama, malam pertama tanpa mereka begitu menyesakkan bagiku. Tepat pukul 10 malam kami memutuskan untuk pulang ke rumah setelah mengantar mereka—Ayah, Ibuk, Teja(adik perempuanku) di tempat yang sudah dijanjikan, karena beberapa alasan seperti Ibuku mencemaskan aku dan koko(adik laki-lakiku) karena besok harus bangun pagi dan menyiapkan segalanya tanpa Ibuk. Raut mukaku langsung berubah, tidak mau meninggalkan mereka sebelum bis datang. Tidak mau meninggalkan mereka meskipun matahari sudah digantikan dengan bulan. Tidak mau meninggalkan mereka dengan sejuta alasan yang tak bisa kuungkapkan. Tapi, mana mungkin aku membantah omongan Ibukku yang menyuruh kami pulang dan meyakinkanku akan mengabari kalau mereka berangkat. Yaa~ aku mengalah. Aku mengamini omongan Ibukku, aku pulang dengan rombongan keluarga besarku.

            Aku pertama berpamitan kepada Ayahku yang duduk di dalam masjid. Ayah mencium pipi kanan dan kiri serta membisikkan “Hati-hati di rumah”. Woah~ rasanya saat ini aku ingin menangis saja. Mataku berkabut dan wajahku terasa panas. Apakah ini fase orang akan menangis? Entahlah. Ibukku juga melakukan hal yang sama denganku. Ah~ Tuhan aku harus menahan air mata ini agar tidak keluar meskipun aku tahu air mata mereka berdua sudah mengalir digaris wajah masing-masing. Aku tidak berani menatap mereka. Aku hanya menunduk, mengalihkan pandangan, dan tersenyum miris. Aku malu kalau aku harus menangis dihadapan mereka meskipun mereka adalah orang tuaku. Bahkan sekarang, aku sudah tidak ingat lagi kapan terakhir kali menangis dihadapan mereka. Rasa panas di wajahku begitu terasa saat aku melihat Teja, dia mungkin juga menahan diri agar tidak menangis. Terlihart dari raut mukanya yang… ah begitulah. Raut muka anak kelas 5 SD yang merajuk.

             Duduk di mobil bagian belakang dekat jendela. “Seharusnya kita tadi bawa motor.” Kata koko. Kalimat sederhana itu mampu membuatku meneteskan butiran bening yang sudah memaksa keluar, mengalir bebas di pipi sebelah kiriku. Apapun yang terjadi mereka—keluarga besarku termasuk koko tidak boleh ada yang tahu kalau aku sudah mulai menangis. Diam. Hanya diam yang kulakukan agar mereka tidak mengetahuinya.
Malam ini aku seperti dihadapkan ke masa kecil—tidur sekamar dengan adik laki-lakiku. Aku sudah tidak bisa menahan air mata yang semakin ditahan malah semakin banyak. Tetes pertama bisa kuatasi. Tetes kedua kenapa semakin banyak air yang tumpah. Tetes ketiga semua terasa kabur dimataku. Tetes berikutnya aku menangis. Menangis tersedu. Sudah, aku tidak peduli dengan apa yang ada dipikiran koko yang saat ini masih terjaga dan mempersiapkan diri untuk ujian sekolah. “Ko, ambilkan tissue di bawah.” Perintahku dengan suara parau khas orang menangis. “Ogah.” Jawabnya singkat. Anak ini menyebalkan. Aku menangis dan dia tidak berusaha untuk menghiburku. Minimal beri aku tissue agar air mataku tidak tumpah kemana-mana. Sepertinya aku menangis selama dua jam dengan posisi yang sama dan pastinya bantalku basah. Tipeku menangis memang begitu. Menghadap kearah yang sama.

              Semua berkat kecupan ringan dipipiku air mataku bisa mengalir deras. Terima kasih sudah memberikanku kecupan singkat malam ini. Sungguh malam ini tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Ini adalah malam yang berharga bagiku. Malam terindah  dan malam yang tak terlupakan. Sekali lagi anak gadismu ini tak sanggup untuk mengucapkannya langsung karena anak gadismu ini bukan tipe gadis yang suka menyinggung permasalahan sensitive.

***

1st day without them: pagi pertama yang berantakan

          Tidak seperti pagi-pagi biasanya. Suasana rumah begitu sepi setelah keluarga besarku pulang dan melanjutkan aktifitas masing-masing. Sepi. Aku benci sepi. Saat sepi menyapa air mataku kembali mengalir. Betapa menyebalkannya aku yang sekarang ini. Kenapa bisa dalam satu malam menjadi anak gadis paling cengeng di blok E 8.
Biasanya setiap pagi selalu ada Ibuk yang menyiapkan sarapan. Ada Ayah yang membuka pintu rumah ketika matahari akan terbit. Ada Teja yang selalu kurecoki jika dia belum bangun dari tidurnya. Sekarang, sarapan aja nggak nafsu. Koko yang buka pintu dan tidak ada yang kurecoki ketika aku membuka mata. Astaga, aku menangis lagi mengingat kenangan itu. Padahal ini masih hari pertama tanpa mereka.

          Duduk di ruang tamu sendiri. Pintu terbuka lebar, matahari bersinar terang, hari yang cerah, dan saya hanya bermalas-malasan di ruang tamu menunggu bapak supir travel jemput. Hari ini aku ke malang naik travel. Hidupku untuk sembilan hari kedepan akan terasa sangat mewah dan melelahkan.

          *drrttt…drrrttt…dddrrrrttt…drrrrttt* kulirik telepon genggamku. Ada nomor tak kukenal yang berusaha menghubungiku. Aku tahu itu pasti dari bapak supir. Katanya lima menit lagi siap di depan rumah. Kuambil tasku dan segala perlengkapan yang sudah kusiapkan semalam. Ah iya, aku baru ingat, kunci kamar kosku. Dimana?. Kucari disegala penjuru rumah—tidak ada. Di dalam tas—nihil. Di jaket yang kupakai kemarin—rasanya aku ingin menangis saja.

           *tinn…tinn* ah sudah, biar. Nggak bawa kunci nggak apa. Rok, almamater, kerudung pinjam saja. Begitu pikirku. Disepanjang jalan ke malang aku sudah menghubungi semua teman yang ada di malang. Mulai dari teman sekelas, sekos, dan sePPL. Merecoki mereka semua agar mau meminjamiku rok, almamater, dan kerudung hitam. Maafkan aku pasti, aku menyusahkan kalian.

           Yaa- seperti apa yang kuduga, sekosan gonjang-ganjing gara-gara aku. Teriak sana-sini biar dapat pinjaman. Alhamdulillah dapat. Baru sampai di malang jam setengah dua belas dan langsung berangkat lagi ke sekolah mengumpulkan tugas. Kejutan yang kudapat hari ini benar-benar membuat jantungku berdetak sepuluh kali lebih cepat dari biasanya. Kunci kamar kosku ketemu. Aku reflek teriak, padahal itu di depan ruang Waka. Ah- terserah. Itu ekspresi bahagiaku kok. Kalian tahu dimana ketemunya? Di dalam tasku. Astaga, tadi pagi aku yakin sekali kalau tasku sudah kucek dan hasilnya membuat aku ingin menangis saja. Yaa- beginilah aku. Ceroboh, cepat mengambil keputusan, panikan, dan pinter juga bikin orang panik.

            Anak gadismu kembali berulah Buk. Itu lihat betapa pintarnya anak gadismu ini, membuat orang disekitarnya panik. Itu masih hari pertama tanpamu Buk. Aku tidak bisa membayangkan sembilan hari kedepan kehidupanku tanpamu.

***

2nd day without them : Rasanya aku tidak ingin pulang. Tapi,….

            Sepertinya rasa kecupan ringan itu masih menghantuiku. Aku menangis lagi. Dan rasanya aku tidak ingin pulang dulu. Aku masih ingin menenangkan hatiku. Aku tidak ingin pulang dalam keadaan yang sama seperti malam itu. Aku tidak ingin membuat koko merasa kalau kakaknya ini tumbuh jadi anak gadis yang cengeng dan kaya air mata.

            Aku sudah dapat kabar kalau hari ini Ibuk, Ayah, Teja sudah sampai di Mekkah. Alhamdulillah. Sehat semua. Suka. Meskipun itu kabar hanya sebatas pesan singkat dan percakapan internasional yang cukup singkat. Itu sudah cukup bagiku untuk sedikit melegakan hatiku. Besok sore aku pulang ke Kediri via travel. Nggak ada yang jemput kalau nggak pakai travel. Koko les dan nggak ada orang di rumah. Duhhh, kasihan.
Rasanya aku tidak ingin pulang dulu. tapi, kalau aku tidak pulang bagaimana kondisi rumah. Apakah koko makan dengan benar? Tidak kesepian?. Itu yang aku pikirkan. Dan sudah kuputuskan untuk pulang saja. Menyiapkan semuanya seperti gelas, camilan, dan apa-apa yang sudah terdaftar di jadwalku dengan rapi.

***

3rd and 4thday without them: jadi ibu rumah tangga dadakan

             Sampai di rumah jam lima sore. Halaman rumahku bersih. Banyak orang yang menyambutku saat aku baru turun dari mobil. Terima kasih untuk tetangga rumahku yang bersedia menerima permintaan Ayah dan Ibuku. Sebelum berangkat mereka berpesan kepada tetanggaku agar turut serta menjagaku dan adikku selain menjaga rumahku ketika tidak ada orang di rumah. Tuh, kan saya nangis lagi mengingat kebaikan yang telah mereka suguhkan kepada keluargaku.

             Besoknya aku cuma menyiapkan sarapan seadanya—telor goreng.  Untuk makan siang aku menyiapkan menu yang sesuai dengan selera masakku hari itu. Aku bikin tumis apa ya namanya, yaa pokok tumis yang isinya jamur, jagung, kangkung, brokoli. Hmm, enak rasanya. Sungguh, nggak bohong. Memang kata Ayahku, aku itu kalau masak sudah spesialisnya masakan tumis.

           Hari ini jadwalku padat. Masak, bersih-bersih rumah, bayar listrik, air, belanja bulanan, ambil gaji, dan beli gelas kecil-kecil. Yaa- hanya itu jadwal yang saya ingat. Selebihnya miss. Ada satu jadwal yang aku lupa. Arisan. Ibuk sebenarnya sudah mengingatkanku. Tapi, namanya juga ibu rumah tangga dadakan. Aku lupa tanggal. Kukira arisan bulanan RTku itu masih satu minggu lagi. Eh ternyata malam ini. Dan saya terlanjur keluar sama koko mulai dari habis maghrib sampai jam delapan malam. Tentu saja arisannya sudah bubar.

           Maafkan anak gadismu lagi ini ya buk. Ceroboh ya, suka menyepelekan hal kecil.

***

5th and 6th day without them : wisata pagi buta

           Dalam sepuluh hari ini entah aku akan beberapa kali naik travel kediri-malang, malang-kediri. Buang-buang duit kan? Ya begitulah caraku menyiasati agar aku sampai di rumah dan malang lebih cepat dari biasanya. Ini sudah kali kedua naik travel pagi buta. Dingin. Nggak ada penghangat ruangan, adanya AC, dan ini bukan ACcecories*hahaaa,abaikan.

          Keren. Baru kali ini aku pergi ke malang pagi buta dan bulannya bersinar terang. Sepertinya kemarin malam bulan purnama. Buktinya bulan yang kulihat sekarang bulat sempurna. Menakjubkan.di selorejo—ngantang, itu waduk ya, oke anggap saja waduk. Lupa namanya sih. Air waduk selorejo bermandikan cahaya bulan purnama. Keren. Apalagi kalau dilihat dari atas—di daerah pujon. Tidak menyesal sama sekali sudah rela bangun jam setengah tiga dini hari. Itu bonusnya.

          Di malang cuma dua hari dan selebihnya balik lagi pulang. Begitu rutinitas terbaruku. Tidak cukup wisata pagi buta berangkat dari Kediri, dari malang juga. Tapi bedanya, kalau dari Kediri aku sama sekali tidak bisa tidur, entah karena apa. Tapi kalau dari malang aku benar-benar terlelap. Cuma tahu “1001 bintang” saja. Selebihnya, tidur.

***

7th, 8th, 9th, and 10th day without them: akhirnya

         Seminggu sudah dan saya tetap jadi ibu rumah tangga kalau di rumah. Hari ke-7,8 di rumah saja. Sesekali keluar untuk membeli barang-barang yang belum sempat terbeli. Hari ke-9 balik ke malang dan besoknya saya sudah harus di rumah lagi. Melelahkan? Tidak. Kadang. Eh- lebih banyak tidaknya kok.

         Aku sudah ada di rumah lagi dengan keberangkatan ketiga. Sampai di rumah sore. Tidur lebih awal, karena besok pagi buta harus jemput mereka. Ah- senangnya. Aku tidak bisa tidur, sampai akhirnya aku kelelahan dan tertidur. Itu juga tidak senyenyak biasanya. Apa ini efek terlalu bahagia? Mungkin.

          *drrttt…drrttt…*tanda ada pesan masuk di telepon genggamku, jam sepuluh malam. Dari Ayahku. Mereka sudah ada di juanda katanya. Sekitar jam dua dini hari baru sampai di Kediri. Alhamdulillah sampai juga mereka di tanah air. Sedikit khawatir. Bagaimana tidak khawatir, dua hari sebelum mereka pulang ada kabar kalau pesawat Malaysia hilang. Aduh, pikiran negatif gentayangan. Sudah, pasti mereka akan baik-baik saja—menyugesti diri.

         *drrttt…drrttt…*tanda ada pesan masuk di telepon genggamku, lagi, jam satu dini hari. Dari Ayahku, lagi. Aku disuruh segera bersiap untuk menjemput mereka. Setengah dua dini hari kami—aku, koko, dan pak yun—adik dari Ibuku berserta keluarganya sudah sampai di tempat penjemputan. Hampir satu jam kami menunggu, akhirnya bis yang membawa mereka dari juanda datang. Kusongsong mereka, Ayahku yang keluar pertama, setelah itu Ibuku, dan terakhir si Teja. Duuhh, betapa romantisnya Ayahku, membantu Ibuku turun dari bis, menggenggam erat tangan kirinya agar tidak jatuh. Setelah itu, aku mendapatkan ciuman ringan di kedua pipiku. Astaga- terharu, lagi. Sudah berkabut mataku.

          Akhirnya, sepuluh hari tanpa mereka terlewati sudah. Ada banyak sekali cerita yang ingin kubagi dengan mereka ketika mereka tidak di rumah. tapi tidak dengan menceritakan betapa cengengnya aku. Betapa rindunya aku. Kurecoki si Teja yang sudah ingin terlelap. Hahaha- jahilku akhirnya tersalurkan juga. Phonphon en phonphon. Itu kalimat aneh yang diucapkan si Teja sebelum tidur.

FIN

Harusnya ini ada kata yang dicetak miring. Tapi, karena tadi niatnya mau ngepost via pc ternyata akunya yang odong, si wpku tampilannya jadi aneh. Nggak kayak biasanya. Jadi ya kuposting via tab dan berantakan. Ah- kasian yang baca pasti. Maaf yaa-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s