Sedikit tentang Mimpiku

Ah~ sepertinya aku sudah lama tidur begitu pikirku sebelum kuputuskan membuka mata. Kubalikkan tubuhku ke kiri, kubuka mataku, mengerjap sebentar, dan membiasakan mataku untuk membaca tulisan “Sedia perahu sebelum hujan” yang bertengger di dinding kamarku. Itu kalimat yang ada di dalam jam dinding kotak yang selalu berdetak meskipun aku sudah tertidur—itu juga kalau baterainya nggak habis. Jam 4.30 pagi, masih ada waktu dua puluh menit untukku tidur sebelum alarmku berbunyi dan membuat mataku benar-benar terbuka. Kupejamkan lagi mataku untuk menghabiskan sisa rasa kantuk yang sebenarnya sudah hilang sejak aku melihat jam. Kutarik selimut warna orange dengan motif bintang kecil-kecil dan matahari tersenyum sebagai fokusnya sampai batas leher—hangat.

Pagi ini masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya—dingin. Kota ini memang lebih dingin dari kampung halamanku. Di pagi hari saja suhu udaranya bisa sampai 22oC dan untuk siang hari hanya naik sekitar 8oC. Jelas beda sekali dengan suhu udara di rumah yang berkisar 33oC pada siang hari, berdiam diri di rumah saja bisa membuat keringat menetes.

Wake up~ (wake up) wake up~ (wake up)

wake up~ wake up~ wake up~ wake up~ oh my love~ wake~ up~~

wake up~ wake up~ wake up~ wake up~ oh my love~ wake~ up~~

wake up wake up~ wake up wake up~ wake up wake up~ wake up wake up~

wake up (wake up) wake up (wake up) wake up (wake up) wake up!! (wake up)

wake up~!! (wake up) wake up (wake up) wake up (wake up) wake up! (wake up)

YA! Ireona~

Alarmku berbunyi. Berarti sudah dua puluh menit aku memejamkan mata. Pernah dengar itu lagu alarm apa? Kalau pecinta sinetronnya orang korea pasti tahu. Itu alarm yang ada di sinetron emergency couple. Aku suka alarmnya. Lucu. Unik. Tanpa pikir panjang langsung kupasang sebagai nada alarmku. Sangking sukanya aku selalu membiarkan alarm itu berbunyi sampai lirik terakhir menikmati liriknya dengan tersenyum dan mata terpejam membayangkan suatu hari nanti ada orang yang selalu lebih awal bangun dan menungguku tersenyum untuk membuka dunianya.

Setelah alarmku berhenti dengan sendirinya, kuraih telepon genggam yang berada tepat di sampingku. Kubuka galeri penyimpanan berbagai macam foto dan screenshot. Kupilih folder screenshot . kubuka screenshot pertama yang muncul di folder itu.

Dia tampan. Dia tampan dengan caranya. Bukan sebatas tampan secara fisik. Aku yakin kalau tampan secara fisik pasti akan memudar seiring bertambahnya kerutan di wajah. Dan aku kembali terperosok ke dalam pesonanya. *nyengir*

Dia selalu datang dengan membawa sesuatu yang aku sendiri tidak bisa melihatnya. Jangankan untuk melihatnya, menebak apa yang dibawanya saja selalu salah. Isinya sih simpel, tapi mengena. Dan itulah yang membuatku semakin menyukainya. Menyukai segala hal yang ditempeli embel-embel namanya.

Selalu seperti ini, sebelum jam menunjukkan angka 5.00 aku tidak akan keluar kamar. Jangankan untuk keluar kamar, turun dari ranjangku saja tidak. Gaya gravitasi ranjangku sangat kuat apalagi untuk pagi hari yang dingin ini. ”Aah~ lima menit lagi Tuan putri akan bangun dan menyapa dunia” kataku lirih sambil tersenyum mebaca ulang hasil screenshot status terbaruku di sosial media yang kubuat kemarin pagi.

Lima menit sudah berlalu dan aku siap untuk membuka kamarku. Kubuka pintu kamarku dan berjalan ke balkon belakang. Menghirup udara pagi sampai memenuhi seluruh ruang yang ada di paru-paruku dan kuhembuskan kuat-kuat sampai tidak ada udara yang tersisa di dalamnya. Menyenangkan. Paru-paruku masih bisa berfungsi dengan benar. “Ah~ segarnya. Bulannya bulat sempurna. Pasti kemarin bulan purnama. Cantik.”

Aku tidak akan pernah mendustakan nikmat-Mu untuk setiap pagi yang indah ini. Untuk setiap tarikan nafas yang pastinya atas izin-Mu aku masih bisa merasakan paru-paruku terisi dengan oksigen dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Wake up~ (wake up) wake up~ (wake up) kenapa alarmku kembali berbunyi? Bukankah hanya akan selalu berbunyi satu kali di pagi hari—tepat sepuluh menit sebelum jam 5.00 pagi. Kemana perginya cahaya lampu penerang balkon? Kemana perginya cahaya bulan purnama? Kenapa semuanya semakin gelap?

wake up~ wake up~ wake up~ wake up~ oh my love~ wake~ up~~

wake up~ wake up~ wake up~ wake up~ oh my love~ wake~ up~~

wake up wake up~ wake up wake up~ wake up wake up~ wake up wake up~

wake up (wake up) wake up (wake up) wake up (wake up) wake up!! (wake up)

wake up~!! (wake up) wake up (wake up) wake up (wake up) wake up! (wake up)

YA! Ireona~

Kunikmati setiap lantunan lirik dari alarmku. Kurasakan ada lengan yang membalut pinggulku. Lengan dari orang yang selalu tejaga lebih dulu untuk melihatku tersenyum. Lengan dari orang yang tidak pernah tega membagunkanku lebih dulu. Orang yang selalu melihat wajah bantalku di pagi hari dan orang yang tidak bosan untuk menikmati hasil karya ciptaan-Nya yang indah. Aku tersenyum dan siap membuka pintu dunianya.

“Selamat pagi Tuan Putri” dia mengecup keningku lembut sebelum aku sempat membuka mata.

Kubuka mataku, berusaha beradaptasi dengan suasana kamar yang remang-remang. Memandang wajah yang ada dihadapanku sekarang. Dia tersenyum. Aku juga. Padangan mata kami bertemu di udara. Saling mengagumi wajah yang ada dihadapan masing-masing.

Dia benar-benar tampan. Mata bulatnya. Rambut hitamnya. Alis tebalnya. Hidungnya. Bibirnya. Aku menyukainya. Menyukai segala sesuatu yang bermerk namanya. I love my husband with every inch of him. Sepertinya semakin hari, aku semakin menggilainya. Entah kekuatan magis apa yang ada di dirinya. Tampan secara fisik pasti akan membuat segala jenis wanita manapun jatuh terhadap pesonanya. Tapi kalau tampan dengan caranya? Hanya wanita tertentu saja yang bisa melihatnya. Seperti aku, wanita yang hanya bisa melihat ketampanan pria yang ada dihadapanku ini. Pria yang saat ini sudah menjadi suamiku dan juga malaikat pelindungku.

“Jangan memandangku seperti itu. Aku tahu kalau aku tampan.” ucapnya sebelum beranjak untuk membuka tirai jendela yang menghubungkan kamar kami dengan dunia luar. Merentangkan kedua tanganya. Menariknya ke atas sebelum menariknya ke kiri dan ke kanan bak instruktur senam.

“Terima kasih sudah menyadarkanku kalau aku sebenarnya sudah disiapkan guardian angel yang benar-benar sempurna untuk hidup aku yang agak………..penuh drama” ucapku. Dia menatapku kaget, langsung kubalas dengan memamerkan cengiran khas bocah yang aku punya.

“Karena hidup banyak rasa, nggak akan menarik kalau hidup nggak ada dramanya.” Ucap kami serentak dan inilah mimpi dua puluh menitku yang telah menjadi kenyataan.

 

 

#fiksibanguntidur ala Rima Buana 1000kata😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s