Tidak menyerah itu…..

jejejengggg~~~ FYI, sekarang ini tanggal 8 juli 2015. Tanggal paling baper deh ya. uhuk!. Meskipun sudah nggak berasa lagi euforianya, tapi tetep aja pengen posting. Yuk, disimak ceritanya :p

27 juni 2014.

Target. Iya, hanya target. Dan semuanya tidak sesuai dengan yang aku rencanakan.

Tiga hari lagi juni berakhir. Seperti yang pernah kujanjikan pada diriku dan orang-orang disekitarku, bahwa akhir juni adalah target sidang. Sidang skripsi. Sidang kelulusanku. Sidang yang menentukan layak atau tidak gelar sarjanaku kugenggam semester ini. Semua targetku berantakan. Semua, iya semua rutukku dalam hati.

Sudahlah, semua pasti ada jalannya. Salahku juga sih, kenapa juga memelihara sifat malas akhir-akhir ini. Dipeliharanya nggak nanggung-nanggung, dipupuk sampai subur malah. Dan sekarang aku sudah panen sifat malasku, semua target berantakan adalah buahnya. Adakah yang mau mencontoh? Silakan, boleh contoh betapa gigihnya aku memelihara sifat malas, buahnya manis pula.

1 juli 2014.

Awal bulan yang menentukan segalanya.

Setidaknya, aku masih memiliki sisa waktu sebelum semuanya sia-sia. Awal bulan ini adalah injury time bagiku. Aku harus berusaha semaksimal mungkin untuk membalas segala hal yang kuacak-acak di bulan Juni. Ya, seperti inilah aku, orangnya suka dendaman, sama kayak bola, ketika bola itu dilempar ke tanah dengan kuat dia tidak akan tinggal diam, bahkan dia akan melompat lebih tinggi. Kecuali kalau ngelemparnya di tanah penuh lumpur, yang ada malah muncratin(?) itu lumpur kemana-mana. Hahaha, analoginya aneh *oke, nggak apa, namanya juga belajar *duh, pembelaan lagi :p

Kemarin, aku sudah mendapat persetujuan dari dosen pembimbing satuku untuk melaksanakan sidang. Sudah dapat tanda tangannya. Dan hari ini, sudah juga dapat tanda tangan dosen pembimbing dua. Seharusnya, hari ini aku bisa menyerahkan diri(?) untuk mendapatkan jadwal sidangku. Tapi, tapi, tapiii.. sekali lagi aku tidak bisa mendeskripsikan maksud hatiku sendiri. Rasanya aneh jika harus menyerahkan diri seperti ini. Deg-degan nggak jelas, ada rasa takut juga.

“Sudah, nggak apa. Jangan takut. Nanti kalau kamu tunda terus waktumu juga ketunda terus. Tujuh postingan menanti(padahal cuma lima postingan, terus yang dua nyolong darimana? Sepertinya usia membuatku sedikit terbata dalam berhitung #eeaaa). Kuliah empat tahunmu harus selesai sekarang. Bulan ini!!” #selfbrainwashing

Sampai pada akhirnya aku memilih untuk pulang ke kos dan menenangkan diri. Kosan sepi. Nggak ada orang. Ngurung diri di kamar. Gelap-gelapan. Bisa nggak kalau hari ini ada yang kasih semangat ke aku? Ucapku dalam hati.

2 juli 2014.

Hari ini entah dengan kekuatan apapun, aku menyerahkan diri ke satuan petugas skripsi. Daftar sidang. Tapi, ibunya masih ada rapat. Jadi, ngertinya siapa pengujinya masih besok. Rasanya hatiku kembali diacak-acak lagi. Kemarin sudah dibenahi, sekarang diacak-acak lagi. Kemarin rasanya jantung sudah capek berdetak lebih cepat, sekarang detaknya jadi lebih cepat dari yang kemarin.

Aku nggak berharap banyak tentang siapa dosen pengujiku. Hanya saja, semoga doaku yang ini segera dikabulkan.

“Semoga ujiannya lancar, pengujinya baik, nggak nangis, dan menyenangkan. Aamiin”

Ternyata, hatiku nggak kunjung tenang, dan iseng-iseng nulis di facebook…..

Hidupku berasa nggak tenang.

Ah~ pengen nangis—nggak iso, pengen turu—nggak iso, pengen nggak ndredeg—nggak iso. Emang kudu ngene ya rasane?

Ya, hari ini aku sudah selangkah lebih maju lagi. Ada rasa ingin melarikan diri. “Tapi, apa iya harus melarikan diri demi menenangkan hati?” tanyaku pada hati nuraniku. “Melarikan diri hanya mampu menenangkan hati 0.0000000000001%. Tindakan yang paling ampuh untuk menenangkan hati ya cuma satu—dijalani apapun nanti hasilnya.” Jawabnya. “Tapi, tapi, tapiii,” bantahku tanpa bisa mendeskripsikan maksudku sendiri.

“Kau pernah mendengar kalimat ini? ’kebanyakan orang lebih memilih menyerah sebelum perang. Tapi, kebanyakan orang yang memilih itu pasti pada akhirnya akan menyesal’ kau mau menyesalinya seumur hidup?”

“Tidak. Aku tidak ingin memilih menyerah sebelum perang. Bagaimana bisa aku memilih untuk menyerah? Ya, bagaimana bisa.”

“Jadi, kesimpulannya?”

“Aku…. Aku tidak akan menyerah. Aku sudah bersusah payah berada di titik ini. hanya kurang sebentar lagi, aku harus bertahan dan tidak boleh menyerah. Karena jika aku menyerah aku akan benar-benar sendiri.”

Kirim… Klik!

3 juli 2014. Firasat

Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillah… Aku ujian lima hari lagi. Tanggal 8 juli 2014 pukul 07.30-09.00 WIB. Rasanya seneng-seneng nggak jelas. Sudah ketemu sama bapak dosen penguji juga. Dari stylenya dosen pengujiku sih baik. Ah- semoga firasatku benar. Aamiin *senyum

Sekarang sudah pukul 23.58 WIB dan belum tidur. Masih ngeprint! Besok ke kampus jam 9, nyerahin tetek bengek perujiananku. Lagi-lagi semangatku tinggi banget. Semoga semangatku bertahan sampai besok ujian.

Biasanya jam 9 malam sudah merem, sekarang 2 menit sebelum tengah malam masih melek. Sempat denger suara embak-embak tadi. Aku sih cuek ya, tapi entah kenapa hatiku langsung mencelos gitu. Hiiii. Mana yang lain sudah di kamar masing-masing, nggak ada yang keliaran di luar. Tidur malam di kosan itu memang kutukan.

 

4 juli 2014.

00.13 WIB. Masih belum tidur dan baru selesai ngeprintku. Cukup sekian begadang hari ini. Entah jenis surga apa yang aku inginkan sampai aku harus bersusah payah begadang sampai dini hari.

 

5 juli 2014

D-3. Entah apa yang kurasakan sekarang. Rasanya aneh. Everything gonna be alright, batinku. Aku sudah berusaha sejauh ini, dengan kekuatan apapun aku sudah sampai di titik ini. Titik dimana kebanyakan orang akan merasa sepertiku. Setidaknya aku sudah berusaha yang terbaik. Sekarang tinggal memanjakan diriku, pikiranku, dan perasaanku juga.

Telepon ke rumah. Curhat. Nangis. Ngrengek nggak jelas. “kalau tetep ngrengek, nggak usah ujian” kata ayahku.

6 juli 2014

Tinggal menunggu beberapa jam menuju jadwal sidangku. Semalam aku sama sekali tidak bisa tidur dengan tenang dan sepertinya mala mini juga. Biasanya jam 9 malam, aku sudah bersiap untuk tidur tapi malam ini meskipun sudah kututup pintu kamar, kumatikan lampu kamarku tetap saja aku tidak bisa tidur. Kulirik jam dinding ternyata sudah jam 10.30 malam dan sialnya aku belum merasakan tanda-tanda ingin tidur, menguap pun tidak. Kuraih earphone yang ada di meja coklat dekat jendela kamar, kutancapkan di telepon genggamku untuk menyalakan fitur radio, dan jari tanganku berhenti di frekuensi 98,6FM—kencana radio. Satu-satunya frekuensi radio yang sering aku putar ketika tidak bisa tidur.

Berkat suara radio itu, sebelum lewat tengah malam aku sudah tertidur, tanpa mimpi.

7 juli 2014 D-1

Jam 2 dini hari, aku tiba-tiba terbangun mendengar suara aneh di kamarku. Ternyata suara radio yang sudah tidak ada jam siarannya.

Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa semua semangatku lenyap. Tak bersisa dan tidak tahu harus berbuat apa. Setidaknya aku harus kembali memejamkan mataku, mengistirahatkan pikiran dan badanku. Tapi apa ini, semakin kupejamkan mataku semakin aku susah untuk kembali tidur. Hanya suara detak jam dinding yang menemaniku. Semakin kudengarkan suara detak jam itu semakin mengerikan. Tanpa sadar, air mataku menetes, sepertinya hari ini satu-satunya perbuatan yang fasih aku lakukan hanya menangis. Aku fasih sekali menangis.

8 juli 2014 D-DAY!!

Kalau sudah harinya itu ya gini rasanya. Semua ruangan di jurusan berasa angker. Sepi. Detak jantungku saja kedengeran. Aku nafas aja juga kedengeran *kalau yang ini terlalu berlebihan :p . Di jurusan jam 7 pagi cuma ada aku, yuni, dan mas hendri. Aku ujian di lantai 2, ruang 216. Itu ruangan komputer ukuran 3×7 m mungkin. Semua sudah kusiapkan, tinggal nunggu dosen penguji dan dua dosen pembimbing.

Sudah jam 7.30, aku masuk ruangan, suaraku bergetar pas ngebuka presentasi. Ditanya ini itu. Kujawab ini itu juga. Kalau nggak bisa jawab ya cuma nyengir nggak jelas sekalian pamer deretan gigiku yang nggak serapi gigi para artis. Jam 9.20 aku disuruh keluar sama pembimbing satuku, mereka bertiga pengen rapat kelulusanku katanya. Ya sudah aku keluar, di luar sudah ada qur2 sama yuni. Ditanyai macem-macem aku sama mereka dan aku masih belum bisa ngejawab dengan benar. Masih kontam sama suasana di dalam kali ya. Jam 9.25 aku dipanggil masuk ruangan lagi. Daaaaan, jeng jeng!!! LULUS REVISI!! Selamat Rima-chan!! Kamu sudah lulus!! Salim ke bapak-bapak tadi. Dan pulang ke kos, ngeposting catatan, cus pulang ke kediri.

Sampai di rumah sore jam 3an, salim ke ayah, cipika-cipiki. Terus diintrogasi macem-macem pas buka puasa. Dan kalian harus tahu. Rasanya lega!

Karena semua ini berkat keteguhan hatiku yang tidak menyerah. Jika saja hari itu aku menyerah, entah apa yang terjadi sekarang. Jika saja hari itu aku menyerah, tidak akan ada adegan wisuda telat, lari 100 meter dengan pakaian lengkap khas wisudawati, dan yang pasti tidak akan ada foto ini :p

teman lomba lari pas wisuda. kanan qur2, tengah yuni

teman lomba lari pas wisuda. kanan qur2, tengah yuni

 

 

 

 

 

 

ngeksis sekeluarga di studio 8 malang

ngeksis sekeluarga di studio 8 malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s