Filsafat–Ilmu Jangan Suka Nyinyirin Orang

Sudah tiga minggu aku kuliah, lagi, di pasca sarjana. Duh, ya, kalau ngomongin kuliahnya itu berasa kayak masuk ke hutan dan tersesat, muter-muter nggak jelas, dan banyak yang harus dikerjain *eciiiee, curhat :p. Kalau tersesat kan gampang, tinggal pake kompas? Kompas nggak guna di hutan macam ini. Ya sudah, tunggu sampai langitnya penuh bintang, baru bisa keluar dari hutan. Terus, jangan salah, aku kuliah di pasca sarjana ini langsung dicap orang pinter. Duh ya~ tolong, aku saja baru sadar waktu udah nginjek ini gedung pasca sarjana, kalau ilmu itu segede gaban! Dan ilmuku nggak ada apa-apanya *tiba2merasakecilmendadak.

Ada satu mata kuliah yang bikin pikiran terpecah-pecah dari sudut pandang manapun. Berasa kuliahnya itu cuma main-main. Duh, mbak, mana ada kuliah di pasca sarjana yang main-main *peresairmata :p. Kuliah yang berasa main-main dan bikin pikiran terbuka macam itu ya cuma kuliah filsafat.

Kuliah filsafat itu, kuliah yang mengubah pola pikir, mau mikir yang dari sisi kanan, ditangkap juga disisi kanan, terus mau kesisi kiri, juga disamperin kekiri. Berasa bener kalau jalan ke roma itu banyak, hwehhehehehe~. Kuliah yang bikin kita belajar memahami orang lain. Kuliah yang mengajarkan, jangan keburu nyinyirin orang tanpa tahu seberapa berat proses yang dilaluinya.

Terus dosenku filsafat, Bu Lia, ngasih gambaran soal cara pikir orang-orang yang sudah mempelajari filsafat. Gini gambarannya, pada Desember 2006 semua astronom di dunia memutuskan bahwa pluto sudah tidak masuk ke daftar planet-planet yang mengelilingi matahari. Lalu, pada Januari 2007 ada seorang guru fisika yang memberikan informasi kepada siswanya kalau sekarang planet yang mengelilingi matahari ada 8. Pada bulan dan tahun yang sama ternyata ada seorang guru juga yang menyatakan bahwa planet yang mengelilingi matahari itu ada 9. Lalu, dari dua guru tersebut, mana yang benar?

Nah loh, pasti kebanyakan memilih guru yang pertama yang benar dan guru yang kedua yang salah. Iya, semua mahasiswa di kelas, termasuk aku, juga sependapat. Ternyata, keduanya itu benar. Apa? Dua-duanya benar? Kan sudah ada kesepakatannya kalau desember 2006 itu planetnya tinggal 8. Dan kalian tahu, jawabannya Bu Lia apa? Guru yang pertama itu benar, karena mengikuti kesepakatan yang sudah dibuat, guru yang kedua itu bukan salah, melainkan tidak benar. Kenapa tidak benar? Bukannya tidak benar itu sama juga dengan salah?. Nah, ini yang jadi masalah, ingat, belajar filsafat itu belajar untuk tidak nyinyirin orang. Guru yang kedua itu bukan salah, melainkan tidak benar, karena kebenaran bahwa planet yang mengelilingi matahari ada 9 itu pernah benar di masanya.

So, kalau ada yang belajar filsafat terus pulang-pulang langsung pusing, ya tentu saja. Kan itu proses belajarnya, tahapan membuka pola pikir itu susah, apalagi yang dihadapi orang ngeyelan macam aku :p. Intinya, jangan kapok buat baca, tulis, dan berhitung.

Sudah ah, ngomongin filsafatnya, entar tambah pusing :p. Intinya, kalau sudah belajar filsafat minimal jangan suka nyinyir deh, kalau nggak suka mending diam.

Salam Nucleon!!!

-END-

2 thoughts on “Filsafat–Ilmu Jangan Suka Nyinyirin Orang

  1. Haruskah ku berlari ke hutan? Kemudian belok ke pantai?
    Lak mesti arek ikii., haha
    Kan wis puas liburan toh kapanane, saiki sesi melbu hutan.. haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s