Sepeda–Nikmati Saja Prosesnya

Malam ini mungkin sudah menjadi rencana tuhan, kalau aku harus mengayuh sepeda malam-malam. Kalau nggak mau ambil pesanan nasi goreng dan mi kuah di depan komplek, ya nggak bakal deh main sepeda malam-malam begini. Masa iya aku harus naik motor, kan jarak penjual nasi goreng sama komplek perumahanku saja nggak sampai 50 meter. Kalau maksa naik motor kan buang-buang bensin. Katanya bensin mahal, katanya mau hemat, masa iya jarak 50 meter aja naik motor :-p . *lagu lawas *masih belum bisa move on dari kenaikan bbm :-p .

Rasa yang ditawarkan saat main sepeda malam tetap menyenangkan, meskipun sudah nggak semenyenangkan waktu kecil. Kan katanya semakin bertambah usia, semakin berkurang rasa manis yang ditawarkan dunia *ceilehh *uhuk!!. Buktinya ngayuh sepeda ke depan komplek, terus balik lagi ke rumah aja langsung engap. Sensasi menyenangkan itu waktu angin semilir mainin krudung, jaket, dan rok batik yang kupakai. Kalau dipikir-pikir anginnya itu lho yang bikin efek naik sepeda jadi cantik. Lagian kalau naik sepeda malam-malam keliling komplek, rasanya ini komplek sudah kayak punyaku sendiri.

Nah, berhubung main sepedanya malam, iseng-iseng tuh lihat langit. Uh! Ternyata malam ini aku keliling sepedanya ditemenin sama bulan sabit. Posisi bulannya disebelah timur. Kalau disebelah timur benar nggak sih kalau sepertinya ini awal bulan baru dalam perhitungan tahun hijriyah. Kebiasaan mungkin ya, suka lihat-lihat sekeliling waktu naik sepeda dan nyapa penghuni komplek yang nggak kenal juga*SKSD ceritanya :-p , ternyata komplekku ini tanaman mayoritasnya itu mangga. Duh, berasa ini komplek sudah kayak perkebunan mangga. Dari rumah paling depan sampai belakang tanamannya pohon mangga dan cuma—mangga gadung dan manalagi—dua jenis mangga saja yang tumbuh. Naik sepeda kan sudah dipastikan kalau larinya nggak sekenceng naik motor, yes? Dan ini poin pentingnya….

ketika kita mengendarai kendaraan dengan lambat, kita bisa lihat apa saja yang ada di sekeliling dengan jelas dan detail. Beda sekali kalau kita mengendarai dengan cepat, pasti ada hal-hal yang terlewatkan.

Sama halnya dengan ketika kita melakukan sesuatu dengan terburu-buru, meskipun selesai lebih cepat tapi pasti ada yang terlewatkan. Jadi, pelan-pelan saja dan nikmati saja prosesnya meskipun engap di tengah jalan.

END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s