Menyeduh Kenangan

Hari ini aku pulang dari Malang ke Kediri. Seperti biasa aku kalau pulang pasti naik bis puspa indah. Sudah berasa kalau bis itu punyaku,hahhaa. Gimana nggak ngaku-ngaku kalau itu punyaku, tiap minggu aja ajeg(sering) pulang, sampai hafal deh aku sama pak supirnya.

Aku duduk di bangku penumpang deretan belakang pak supir bagian tengah dekat kaca. Bulan ini memasuki musim penghujan, dan Malang sudah sering diguyur air hujan beserta antek-anteknya—kilat, petir, dan bahkan angin kencang. Aku bukan tipe orang yang bisa tidur di kendaraan, kendaraan pribadi saja susah tidur apalagi kendaraan umum. Di jalan berkelok-kelok mungkin di sekitar Ngantang tiba-tiba hujan turun cukup deras. Selalu dan selalu, ketika hujan turun pasti dikaitkan dengan kenangan. Aku juga mengalaminya hari ini, menyeduh kenangan. Edyaann!!!

 

Rinai hujan basahi aku

temani sepi yang mengendap

kala aku mengingatmu

(Utopia, Hujan)

Aku ingat ketika diajak main sama salah satu teman cowokku di Alun-Alun Batu. Saat itu sebenarnya bukan musim penghujan, sekitar bulan Maret mungkin ya aku mainnya. Baru saja jalan dari parkiran motor, tiba-tiba gerimis. Tapi kita malah cuek-cuek saja dan malah beli jajanan cilok. Niatnya sih habis beli cilok pengen naik bianglalanya. Bianglalanya murah banget sewaya, Rp 3000,00 per orang per putaran. Eh, ternyata habis beli cilok bianglalanya nggak jalan lagi, gara-gara gerimisnya makin deras.

Tuh, kan lihat, hujan sangat tidak bisa bersahabat denganku. Inilah kenapa aku sangat-sangat tidak suka dengan hujan. Hujan membatalkan acara naik bianglalaku. Akhirnya sambil menunggu hujan reda, kita berteduh di halte kecil yang ada di dalam alun-alun itu. Di sampingnya terdapat beberapa rambu-rambu lalu lintas. Di situ kita berdua cuek banget buat makan itu cilok, kita cuma beli satu bungkus dibuat berdua. Kenapa? Bukan gara-gara pengen terlihat hemat apalagi romantic, yes. Karena hari itu aku males banget makan *oke, jiwa-jiwa picky eaternya lagi kumat. Di dalam ciloknya itu ada juga semacam gorengan kecil-kecil, temenku itu sih sudah bilang diambil pakai tangan saja nanti jatuh. Hah, aku kok dibilangin kayak gitu ya jelas ngeyel lah nggak mau ambil pakai tangan tapi pakai lidi kutusuk-tusuk itu gorengan, berhasil kuangkat,dan….jatuh. Ngakak deh berdua.

Hujan juga nggak kunjung reda, malah semakin deras sampai aku lumayan kena air hujan gara-gara anginnya lumayan kenceng. Dan momen yang paling mengejutkanku, dia berdiri tanpa banyak ngomong. Di sampingku. Menghadapku. Gila!!! Itu dalam hati aku teriak kenceng apa-apaan dia, kan bisa kehujanaaaannnn dan basah!! Adegan itu berasa kayak pas cuaca lagi panas-panasnya ada coklat yang ditaruh di dalam mobil, MELELEH!! Melelehnya nggak santai sih😛

 

…..

Aku selalu bahagia

saat hujan turun

karena aku dapat mengenangmu

untukku sendiri ooohhh..ooo
Aku bisa tersenyum sepanjang hari

karena hujan pernah menahanmu disini

untukku ooohhh…

(Utopia, Hujan)

Kalau inget adegan itu sih, bisa-bisa aku berubah pikiran dari nggak senang sama hujan jadi santai aja kalau hujan turun. Nggak cuma santai, ngefans malah. Karena hujan pernah menahanmu disini untukku😀

 

END

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s